Sabtu, 10 Januari 2015



MAKALAH
(HISTORIKA PERKEMBANGAN MANEJEMEN SATUAN PENDIDIKAN)
Makalah ini saya buat salah satu untuk memenuhi persyaratan mata kuliah manejemen pendidikan
Dosen Pembimbing : Dr. H. Sofwan Manaf M.Si

Oleh :
ROHAYATI

PRODI MANAGEMENT PENDIDIKAN ISLAM (TARBIYAH)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISALAM DARUNNAJAH
JAKARTA 2014 M /1433 H




 KATA PENGANTAR

Alhamdulilahirabbilálamin, Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, karena berkat rahmat serta hidayahNya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah manajemen pendidikan ini tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad saw selalu kita nantikan syafa’atnya dihari akhir kelak, Amien.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan sumber referensi yang penulis dapat selama pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis mohon kritik dan saran dari para pembaca, dan penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya penulisan makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dan jika terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.



                                                                                    Jakarta, 07 Januari 2015


                                                                                                Penulis



PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Manajemen   tingkat  satuan pendidikan  yang  pada  masa  sekarang  ini  sudah sangat  maju,  sebenarnya  mendapatkan  kontribusi  dari  berbagai  pemikiran dan hasil praktik  para  pendahulu.  Menurut robbins (1998),  ratusan  orang  telah membantu   menanam   benih   manejemen   ( termasuk  manejemen  pendidikan),  dan  ratusan  orang  yang  berusaha  menumbuh  kembangkannya.   Masing-masing tokoh pada  masa zamannya  memberikan  kontribusi  yang  relevan  dengan  konteks zaman  dan  kebutuhanya.  Sudut  pandang  dan  disiplin  ilmu  yang  mereka  dalami, juga  mewarnai  sumbangan  yang mereka  berikan  kepada  manejem  tingkat  satuan pendidikan.
Apabila  pengelolaan  pendidikan diibaratkan sebagai sebuah lukisan menumental,   maka  yang   menorehkan   lukisan   dalam   kanvas   tersebut   adalah  para tokoh  manajemen  tingkat  satuan   pendidikan  sepanjang  sejarah.  Lukisan menumental  tersebut , mendapatkan  aneka jenis  coretan  dan semburan ekspresi para pelukis,  dengan aneka  macam  peralatan  lukis  mulai  dari  yang  sederhana sampai  dengan  yang  canggih.
Pada  bab  ini  akan  dikedepankan  secara  berturut-turut  tentang  1.  Sejarah  dan aliran  manejemen  tingkat  satuan  pendidikan  2.  Pendekatan-  pendekatan manejemen  tingkat  satuan  pendidikan  dan  3.  Kecendrungan – kecendrungan manejemen tingkat satuan pendidikan.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Historika  dan  aliran  manjemen  tingkat  satuan  pendidikan
Sejarah dan aliran manejemen tingkat satuan pendidikan, dapat dikedepankan  berdasarkan  priodisasi  atau  eranya,  yaitu: 1. Priodisasi  atau era  rintisan  2.  Era  klasik  3.  Era human behavior,  4.  Era  human  relation, dan 5. Era behavioral science. Masimg- masing era tersebut, telah memberikan kontribusi bagi studi manejemen satuan pendidikan. 
1.       Era  perintisan
Sesungguhnya  telah banyak benih-benih manejemen tingkat satuan  pendidikan  ditanam  oleh  orang,  dengan  berbagai   ragamnya,  masing-masing  para  penanam,  telah  menaburkan  benih pengelolaan tersebut, dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya,  banyak  yang  ikut  menuainya.  Akan   tetapi, untuk masa-masa  perintisan  ini  tiga  nama  patut  dikedepankan,  yaitu adam  smith,  seorang  bapak  pendiri  ekonomi  kafitalis,  lewat karyanya  the  wealth  of  nations,  kedua  Charles  Babbage,  seorang guru  besar  matematika  inggris,  lewat  karyanya  on  the  economy  of  machinery  and  manufactures.  Ketiga,  Robert  owens,  seorang wirasuastawan wales yang meberi pabrik pertamanya tahun 1789, pada masa ia berusia 18 tahun.
a.        Adam  smith
Sebagai seorang econom, adam smith sangat berkepentingan  dengan  efisiensi,  yaitu  suatu  term yang mencoba  mendapatkan  selisih  antara  apa  yang  dikeluarkan  dan apa  yang  didapatkan.
Guna  meningkatkan  efisiensi,  menurut  the  founding  father  ilmu  ekonomi  ini,  orang  seharusnya  tidak  bekerja  sendiri, melainkan bekerja bersama-sama, yang diatur lewat pembagian pekerjaan. Ia akhirnya tiba pada suatu kesimpulan, bahwa pembagian pekerjaan tersebut ternyata meningkatkan produktivitas.
Karena  itu,  supaya  pembagian  pekerjaan  tersebut  berhasil dengan  baik,  ia  merekomendasikan  peningkatan  keterampilan dan  ketangkasan  pekerja,  menghemat  waktu  dan  menghemat tenaga  kerja.  Sebab  hanya  dengan  efisiensilah  keberlangsungan pekerjaan  tersebut  dapat  dijaga.  Dengan  demikian,  kontribusi yang  secara  nyata  ia berikan  terhadap  studi  manejemen  tingkat satuan pendidikan ialah pada organizing sumber daya manusia (SDM).
b.      Chaeles Babbage
Chaeles Babbage tampaknya menjabarkan lebih lanjut apa yang pernah dikedepankan oleh adam smith. Ia mengedepankan keuntungan yang akan didapat, apabila pembagian pekerjaan yang dikedepankan oleh adam smit itu dapat diterapkan.
Menurut Charles Babbage keuntungan pembagian pekerjaan tersebut adalah: (1) mengurangi waktu untuk mempelajari pekerjaan, (2) mengurangi pemborosan bahan selama tahap belajar, (3) dicapainya keterampilan yang tinggi, (4) dapat dipadukanya keterampilan dan kemampuan fisik yang mempunyai pekerjaan spesifik tersebut. Berdasarkan analisikeuntungan tersebut, Charles Babbage merekomendasikan spesialisasi pekerjaan. Bahwa apapun pekerjaan yang harus deselesaikan, haruslah dilakukan oleh orang yang punya kapabilitas dibidang pekerjaan tersebut.
c.       Robert owens
Owens  adalah  orang  yang  lantang  mengkritik  praktik  pengelolaan  yang   lebih  memperhatikan  praktik  perawatan  mesin  dibandingkan  dengan memperbaiki  tenaga  kerja  . owens  juga  mengecam  habis  -  habisan  industriawan  yang  mengupah  rendah  terhadap  tenaga  kerja  yang  mengoperasikan  mesin-mesin  mahal.
Sebagai  seorang edialis  , owens  berpendapat  bahwa   uang  seharusnya  lebih  banyak  dipergunakan  untuk  menanam  SDM  dibandingkan  untuk  belanja  mesin-mesin.  Karena   itu  ia  juga  memperjuangkan  jam kerja  yang  diatur  bersama  , undang-undang  kerja  untuk  pekerja  anak,  pelibatan  masyarakat  dalam  aktifitas  bisnis  dan  pemberian  makan  kepada  tenaga  kerja.
2.      Era  klasik
Era  klasik  ini  ditandai  oleh  kemunculan  teori-teori  pengelolaan  untuk  pertama  kalinya.  Sekitar  tahun  1900  sampai  dengan  tahun  1930,  fungsi – fungsi  pengelolaan  mulai  mengedepan.  Tokoh  - tokoh  yang  kita  patut  catat  untuk era  klasik  ini  adalah  Frederick taylor, henry  fayol,  max  weber,  mery  porket  follet,  dan  chester  Bernard.
3.      Era  human  behavior
Era  human  behavior ditandai  oleh  banyaknya  sumbangan  berharga  dari  riset-riset  psikologi  behavioristik  .  berlangsung  dalam  dasawarsa  tahun  1930-an, era  human  behavior  ini  ditandai  oleh  tiga  hal  penting  yakni  :  (1)  kelahiran  kantor  pekerja  sekitar  abad  20-an  , (2)  lahirnya  akta  wegner  ,  yang  mendapatkan  dukungan dari  presiden  as  franklin  Roosevelt,  dan  (3)  terciptanya  bidang  psikologi  industry .  yang  terakhir  ini  , yang  terakhir  ini  ditandai  dengan  munculnya  karya  yang  berasal  dari  hugo  musterberg  pada  tahun  1913.
4.      Era  human  relation
Era  human  relation  adalah  suatu  era  yang  memperhatikan  terhadap  aspek  hubungan  kemanusiaan  dalam  pengelolaan.  Gerakan  pengelolaan  era  ini,  ditandai  oleh  kuatnya  keyakinan  bahwa  kunci  produktifitas  organisasi  pararel  dengan  peningkatan  kepuasan  karyawan.  Empat  tokoh  pengelolaan  yang  patut  dekedepankan  dalam  era  human  relation  ini  adalah  hawtorne,  dale  Carnegie,  abram  maslaw,  dan  douglash mcgragor.
5.      Era  behavioral  science
Era  behavioral science ditandai  banyaknya  riset  tentang  prilaku  manusia  dalam  organisasi.  Para  priset  dalam  bidang  ini,  mencoba  memisahkan  antara  keyakinan  pribadi  mereka  dengan  hasil-hasil  riset yang  mereka  dapati.  Para  ilmuan  yang  gandrung  dengan  riset  tersebut  mencoba  mengembangkan  desain  riset  dengan  teliti  dan  senantiasa  terbuka  kepada  ilmuan  lain  yang  ingin  membuktikan  kebenaran  hasil  risetnya.  Beberapa ilmuan  yang  memberikan  kontribusi pengelolaan  era  behavioral  science  tersebut  adalah  Jacob  Moreno,  B.F skinner, Dafid  mc clelland,  fred  fiedler,  dan  Frederick  herzbeg. 

B.     PENDEKATAN – PENDEKATAN  MANEJEMEN  TINGKAT  SATUAN  PENDIDIKAN
1.      Pendekatan  struktural
Pendekatan  (structural  approach )  adalah  suatu  pendekatan  yang  mencurahkan  pada  struktur  dan  atau  aspek  kelembagaan , oleh  karena itu,  pendekatan  ini  lazim  juga  disebut  sebagai  pendekatan  institusional  atau  pendekatan  structural institusional.
Sifat  pendekatan  structural  ini,  selain  statistis, juga  sangat  legalistic  formalistic.  Aspek-aspek  sudstantifnya  tidak  dapat  dijangkau.  Lebih-lebih  aspek esensinya.  Tidak  dapat  ditangkap  oleh  pendekatan  structural.  Bahkan  fungsi esensialnya  yang  terdapat  didalam  manejemen  tingkat  satuan  pendidikan,  tidak  dapat  ditangkap  oleh  pendekatan  structural.
2.      Pendekatan  fungsional
Sebagai  respond  atas  ketidakpuasan  terhadap  pendekatan  stuktural,  maka  dimunculkan  pendekatan  fungsional  ( fungsional approach)  pendekatan ini  lebih  memberikan  perhatian  kepada  fungsi-fungsi  esensial manajemen  tingkat  satuan  pendidikan.  Fungsi-fungsi  esensial  tersebut,  meliputi  fungsi  infut,  fungsi  proses,  fungsi otfut,  dan  fungsi  impact.
Yang  dimaksud  fungsi  infut  adalah  fungsi  yang  berkaitan  dengan  masukan-masukan  dalam  manejemen  tingkat  satuan  pendidikan,  masukan-masukan  tersebut  bisa  berupa  SDM ( siswa,  guru,  personalia  dan  kependidikan  lain)  bisa  juga  berbentuk  dana,  sarana,  prasarana, bahkan   bisa  juga  berupa  perangkat  lunak  seperti  konsep  dan  peraturan  perundangan.
Yang  dimaksud  fungsi  outfut  adalah  fungsi  yang  berkaitan  dengan  hasil  manejemen  tingkat  satuan  pendidikan. Fungsi  outfut  dalam  manajemen  tingkat  satuan  pendidikan  adalah  tercapainya  tujuan  secara  efektif  dan  efisien. 
Yang  dimaksud dengan fungsi  impact  adalah  yang  berkaitan  dengan  dampak  manejemen  satuan  pendidikan.  Fungsi  impact  ini bisa  mengarahkan  kepada  aspek  internal  organisasi  dan  bisa  juga mengarah  pada  aspek  eksternalnya  ataun ekologisnya.
3.      Pendekatan  stuktulal  bersyarat
Apabila  pendekatan  stuktural  membatasi  diri  pada  stuktur  atau  kelembagaan  yang  bersifat  legalistic  formalistic.  Maka  pendekatan  structural  bersyarat  lebih  menukik  kepada  organisasi. 
Yang   maksud  herarki adalah  sususan  organisasi yang  didasarkan  atas  tingkat-tingkat  kewenangan, kekuasaan,  tan  tugas  sehingga  lalulintas  atasan  dan  bawahan  dapat  berjalan  sebagai  semestinya. 
Yang  dimaksud  dengan  deferensial  adalah  keberagaman  masing-masimg  subsistem  oganisasi,  yang  lazim  disebut  dengan  biro,  bagian,  unit  beserta  dengan  sub-subnya.
4.      Pendekatan  kuantitatif 
Yang  dimaksud  dengan  pendekatan  kuantitatif  adalah  suatu  pendekatan  yang  ketika  mendekati  persoalan  kerap  menggunakan  peranti  statistika  dalam  analisisnya.
5.      Pendekatan  kualitatif
Pendekatan  kualitatif  muncul  sebagai  respons  atas  ketidakpuasan  terhadap  pendekatan  kuantitatif.  Banyaknya  aspek-aspek  manejemen  tingkat  satuan  pendidikan  yang  tidak  dapat  didekati  dengan  menggunakan  pendekatan  kuantitatif, ternyata  dapat  ditembak  dengan  pendekatan  kualitatif.
6.      Pendekatan  sistem 
Pendekatan  sistem  dalam  studi  manejemen  satuan  pendidikan  adalah  suatu  pendekatan  yang  berusaha  untuk  menberikan manajemen  tingkat  satuan  pendidikan  dari sistem utama dan sistem  pendudkungnya.
C.    MANEJEMEN TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH
Tingkat  satuan  pendidikan  berbasis  sekolah,  juga  dikenal  menejemen  berbasis  sekolah  ( MBS )  sebenarnya  merupakan  bentuk  lain  dari  manejemen  tingkat  satuan  pendidikan  yang terdesentralisasi.  Dalam  MBS, otonomi  pendidikan  ( sekolah )  banyak  dikedepankan  dengan  demikian  ada  tiga  triple  otonomi yaitu  otonomi  pendidikan,  otonomi  sekolah,  dan  otonomi  guru.
 
Manajemen  kurikulum  Manajemen  kurikulum  merupakan  subtansi  manajemen yang     utama di sekolah.  Prinsip  dasar  manajemen  kurikulum  ini adalah  berusaha  agar proses pembelajaran  dapat  berjalan  dengan  baik, dengan  tolok  ukur  pencapaian  tujuan  oleh siswa dan mendorong guru untuk  menyusun  dan  terus  menerus  menyempurnakan  strategi pembelajarannya.  Tahapan  manajemen  kurikulum di sekolah  dilakukan  melalui  empat  tahap
• Perencanaan;

• Pengorganisasian  dan  koordinasi;

• Pelaksanaan; dan

• Pengendalian.
 Dalam konteks  Kurikulum Tingkat  Satuan  Pendidikan  (KTSP), Tita  Lestari (2006) mengemukakan  tentang  siklus  manajemen  kurikulum  yang  terdiri  dari empat tahap : 1. Tahap  perencanaan;  meliputi  langkah-langkah sebagai : (1)  analisis k ebutuhan; (2) merumuskan  dan  menjawab  pertanyaan  filosofis; (3)  menentukan  disain  kurikulum; dan (4) membuat  rencana  induk  (master plan):  pengembangan,  pelaksanaan,  dan penilaian.  2. Tahap pengembangan;  meliputi  langkah-langkah :  (1)  perumusan  rasional  atau  dasar  emikiran;  (2) perumusan  visi,  misi,  dan  tujuan;  (3)  penentuan  struktur  dan  isi  program;  (4)  pemilihan dan  pengorganisasian  materi;  (5)  pengorganisasian  kegiatan  embelajaran;  (6)  pemilihan sumber, alat ,  dan  sarana  belajar;  dan (7)  penentuan  cara  mengukur  hasil  belajar. 3.  Tahap implementasi  atau  pelaksanaan;  meliputi  langkah-langkah:  (1) penyusunan rencana dan program pembelajaran  (Silabus, RPP:  Rencana  Pelaksanaan  Pembelajaran);  (2) penjabaran materi (kedalaman  dan  keluasan);  (3)  penentuan  strategi  dan  metode p embelajaran; (4) penyediaan  sumber,  alat,  dan s arana  pembelajaran; (5)  penentuan  cara  dan   alat penilaian proses dan hasil belajar.
 














BAB III.
KESIMPULAN
A.    PENUTUP

Manejemen  tingkat  satuan  pendidikan  pada  era  sekarang  ini  sudah  demikian  maju ,  sebenarnya mendapatkan  kontribusi  dari  berbagai  pemikiran  dan  hasil  peraktik para  pendahulu, menurut  robbins  (1998)  ratusan  orang  telah  menbantu  menanam  benih  manejemen  temasuk  manajemen  pendidikan , dan  ratusan  orang  yang  berusaha  memeliharanya,  dan  ratusan  orang  lagi berusaha  menumbuhkembangkanya,  masing-masing  tokoh  pada  zamannya  member  kontribusi  yang  relevan  dengan  konteks  zaman  dan  kebutuhannya.  Sudut  pandang  dan  disiplin  ilmu  yang  mereka  dalami  juga  mewarnai  sumbangan  yang  mereka  berikan  kepada  manejemen  tingkat  satyan  pendidikan.
Setidaknya  ada  6  pendekatan  dalam  manajemen  tingkat  satuan  pendidikan ,  yaitu  pendekatan structural,  pendekatan  fungsional,  pendekatan  structural bersyarat,  pendekatan  kuantitatif,  pendekatan  kualitatif dan  pendekatan  sistem.
Pendekatan  structural  lebih  mengedepankan  aspek-aspek yang  bersifat  legalistic  formalistic,  pendekatan  fungsional  lebih memberikan  perhatian  kepada  fungsi-fungsi  esensial  manajemen   satuan  pendidikan,  pendekatan  structural  bersyarat  lebih  menukik  kedalam  structural  organisasi, khususnya  ada   tiga  dimensi yaitu  herarki, deferensiasi,  dan  kualifikasi  atau  kompetensi.













DAFTAR  PUSTAKA

-          Ali  imron, proses  manajemen tingkat   satuan  pendidikan.
-          Musa hubies, manajemen strategic , kompas gramedia 
-           Bacal, Robert. 2001. Performance Management. Terj.Surya Darma dan Yanuar
-          www.kepemimpina sekolah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar