Sabtu, 22 November 2014


KATA PENGANTAR

Alhamdulilahirabbilálamin, Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, karena berkat rahmat serta hidayahNya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah kepemimpinan ini tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad saw selalu kita nantikan syafa’atnya dihari akhir kelak, Amien.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan sumber referensi yang penulis dapat selama pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis mohon kritik dan saran dari para pembaca, dan penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya penulisan makalah kepemimpinan ini.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dan jika terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya



                                                                                    Jakarta, 08 Oktober 2014


                                                                                                Penulis








BAB I
PENDAHULUAN

             Kepemimpinan adalah setiap sumbangan terhadap terwujudnya dan tercapainya tujuan-tujuan kelompok atau golongan. Atau dengan kata lain, kepemimpinan adalah perbuatan diantara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik seorang maupun kelompok maju kearah tujuan-tujuan tertentu.
Kepemimpinan tampak dalam proses di mana seorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan  lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.




BAB II
PEMBAHASAN

A.  A.   Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perubahan prilaku orang lain, baik langsung maupun tidak. Kemampuan memimpin selalu merupakan pintu terhadap keefektifan pribadi maupun organisasional.[1]
Kauzes dan Posner menjelaskan bahwa kepemimpinan itu terdiri dari adanya pemimpin, yang dipimpin (anggota) dan situasi saling memerlukan satu sama lain. Sedangkan Hersey dan Blanchard berpendapat bahwa “kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktifitas individu atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.[2]
Sedangkan pemimpin ialah seseorang yang diperlukan untuk mengendalikan dan mengatur kegiatan di dalam suatu organisasi.[3] Dalam Islam, pemimpin disebut dengan Khalifah. Khalifah adalah wakil, pengganti atau duta. Sedangkan secara istilah Khalifah adalah orang yang bertugas menegakkan syariat Allah SWT, memimpin kaum muslimin untuk menyempurnakan penyebaran syariat Islam dan memperlakukan seluruh kaum muslimin secara wajib, sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW .
Dari pengertian diatas jelas bahwa pemimpin menurut pandangan Islam tidak hanya menjalankan roda pemerintahan begitu saja namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada rakyatnya untuk melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam walaupun bukan beragama Islam. Serta mempengaruhi rakyatnya untuk selalu mengikuti apa yang menjadi arahan dari seorang pemimpin.
Sedangkan kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku seseorang, sehingga apa yang menjadi ajakan dan seruan pemimpin dapat dilaksanakan orang lain guna mencapai tujuan yang menjadi kesepakan antara pemimpin dengan rakyatnya.

B.     Perbedaan kepemimpinan dan manajemen
Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa kepemimpinan itu soal mempengaruhi orang lain sehingga mau dan mampu menjadi pengikut, sementara manejemn memfokuskan pada system serta proses. Kepemimpinan merupakan bagian dari proses pengembangan sumberdaya manusia ( SDM ). SDM adalah asset yang dimiliki sebuah organisasi yang perlu dikelola secara efektif agar mampu memberikan nilai tambah kepada organisasi. Untuk mengelola SDM menjadi asset organisasi diperlukan kepemimpinan yang efektif, apabila kepemimpinan anda ingin efektif anda dapat melakukukan:
1.   Memotifasi diri sendiri untuk bekerja.
2.   Banyak belajar dan membaca buku.
3.   Memiliki kepekaan tinggi terhadap permasalahan organisasi dan komitmen tinggi untuk memcahkannya.
4.   Selalu merasa tertantang untuk mengatasi hambatan dan terhalang untuk mencapainya tujuan.
5.   Mengerakan atau memotifasi staf agar mereka mau dan mampu untuk melaksanakan tugas-tugas pokok organisasi sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab yang melekat pada setiap tugas tersebut.[4]

C.    Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan sebagai salah satu manajemen, merupakan hal sangat penting untuk mencapai suatu tujuan organisasi. Dalam kehidupaan organisasi, fungsi-fungsi kepemimpinan adalah bagian daripada tugas utama yang harus dilaksakan, tetapi untuk merumuskan apa yang dimaksud fungsi kepemimpinan, maka kita harus mengetahui apa yang menjadi fungsi dari pada pemimpin itu sendiri.
Adapun fungsi pemimpin diantaranya adalah sebagai berikut:
1.   Membangkitkan loyalitas dan kepercayaan bawahan
2.   Mengomunikasikan gagasan atau ide kepada orang lain
3.   Mempengaruhi serta menggerakkan orang lain untuk dapat mengikuti apa yang menjadi keputusan baik dari keputusan dari pemimpin maupun keputusan bersama
4.   Menciptakan perubahan secara efektif

D.    Syarat-syarat Kepemimpinan
Berikut ini adalah beberapa syarat kepemimpinan dalam pendidikan yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian, yaitu :
a.    Rendah hati dan sederhana
b.   Bersifat suka menolong
c.    Sabar dan memiliki kestabilan emosi
d.   Percaya pada diri sendiri
e.    Jujur, adil dan dapat dipercaya
f.    Keahlian dalam jabatan[5]

E.     Pemimpin di Lembaga Pendidikan
      Para pemimpin lembaga pendidikan adalah orang-orang yang menjalankan kepemimpinan pendidikan. Adapun mereka yang tergolong sebagai pemimpin pendidikan diantaranya yaitu : rektor, kepala sekolah, kepala madrasah, kyai atau ustadz sebagai pimpinan pesantren. Mereka yang menduduki jabatan tersebut memiliki peranan sebagai pemimpin pendidikan yaitu bertanggung jawab mempengaruhi, mengajak, mengatur, mengkoordinir para personil atau pegawai kearah pelaksanaan dan perbaikan mutu pendidikan dan pengajaran, sehingga dapat menjalankan fungsi kepemimpinan pendidikan sebagaimana diharapkan.
      Kepala sekolah atau madrasah adalah pimpinan tertinggi disekolah. Pola kepemimpinannya akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa dan pihak terkait untuk bekerja atau berperan guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Cara kepala sekolah untuk membuat orang lain bekerja untuk mencapai tujuan sekolah merupakan inti kepemimpinan kepala sekolah.
      Banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah diantaranya, yaitu :
1.      Kepribadian yang kuat
2.      Memahami tujuan pendidikan dengan baik
3.      Memiliki pengetahuan yang luas
4.      Memiliki keterampilan professional

Kepala sekolah harus dapat memahami semua situasi yang ada di sekolah agar dia dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi sekolahnya. Karena itu, menurut para ahli  suatu gaya kepemimpinan dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang efektif bagi situasi yang lain.[6]
Oleh sebab itu, pemimpin diharapkan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan tercapai secara maksimal. Kemampuan dapat berupa kemampuan berpikir (pengetahuan), dan kemampuan ini yang merupakan penentu keberhasilan organisasi.
Pengaruh-pengaruh kepemimpinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.      Kepemimpinan tidak langsung (indirect leadership), seperti kepemimpinan seorang ahli ilmu, seorang pengarang, seorang artis dengan melalui karangan-karangan atau buku-bukunya.
2.      Kepemimpinan langsung (direct leadership), pengaruh – pengaruh ini dilakukan melalui sikap, perbuatan dan kata-kata secara langsung terhadap anak buah atau pengikutnya. Kepemimpinan macam ini disebut juga “ face to face leadership”

F.     OTORITAS
1. Pengertian Otoritas
Otoritas (authority) dapat dirumuskan sebagai kapasitas atasan, berdasarkan jabatan formal, untuk membuat keputusan yang mempengaruhi perilaku bawahan. Banyak orang memahami bahwa otoritas adalah sebuah bentuk kekuasaan seseorang atas diri orang lain. Pada waktu seseorang memiliki otoritas, misalnya di dalam lingkup pekerjaan tertentu, maka kekuasaan menjadi mutlak miliknya. Baik itu kekuasaan untuk mengatur, mengontrol atau memutuskan sesuatu. Tentu saja jika digunakan oleh orang yang tidak tepat atau memiliki motivasi yang tidak baik, maka otoritas tersebut tidak berfaedah untuk membangun sebuah sistem malah meruntuhkannya. Bukan hanya itu, otoritas di tangan orang yang tidak tepat, akan dapat disalahgunakan untuk menjajah orang lain, mencari keuntungan sendiri dan menghasilkan perlakuan atau tindakan semena-mena. Betapa baiknya otoritas untuk tujuan yang baik dan betapa buruknya otoritas untuk tujuan yang menyimpang. Otoritas haruslah berada di tangan orang yang tepat, yang mampu menggunakannya secara bertanggung-jawab.
Otoritas yang baik dan benar yaitu, jika segala sesuatu berjalan dengan baik, di dalam sebuah sistem pemerintahan, pekerjaan atau bahkan lingkup pelayanan. Otoritas bermanfaat untuk membuat semua berada di dalam lingkup kerja yang dinamis. Semua orang tunduk dan taat serta tidak bisa bersikap semau-maunya sendiri. Aturan ditegakkan dan menjadi acuan bersama. Pemimpin yang mengendalikan situasi, menggunakan otoritas dengan bertanggung-jawab dan tidak menempatkan diri sebagai alat kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain. Otoritas digunakan untuk membuat semua sistem bekerja dengan baik dan mencapai tujuan sebagaimana ditetapkan bersama. Dalam konteks ini juga berlaku seorang pemimpin diikuti karena otoritas yang dimilikinya dan bahkan karena pengaruh yang dimilikinya. 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, baik buruknya otoritas, serta akibat yang ditimbulkannya, tidak ditentukan oleh otoritas itu, melainkan oleh orang yang mendapatkan atau menggunakan otoritas tersebut. Dalam konteks kepemimpinan, seseorang yang menggunakan otoritas sebagai alat kekuasaan, bukanlah pemimpin. Sebab, kepemimpinan adalah pengaruh dan bukan otoritas. Otoritas dapat menghasilkan pengaruh. Sebaliknya, pengaruh dapat menghasilkan otoritas. Perbedaanya adalah, jika pengaruh lahir dari otoritas, maka pengaruh tersebut hanya bersifat sementara selama seseorang memiliki otoritas di dalam dirinya. Orang-orang akan mengikuti dan berada di dalam pengaruhnya semata-mata karena otoritas yang dimilikinya. Akan tetapi, jika otoritas lahir dari pengaruh, maka pengaruh tersebut bersifat jangka panjang. Orang-orang akan mengikuti seorang pemimpin yang memiliki pengaruh yang kuat sekalipun tidak lagi memiliki otoritas tertentu. Ketika seorang pemimpin mampu membangun suatu pengaruh yang kuat di kalangan pengikutnya, maka dengan sendirinya pemimpin itu mendapatkan otoritas dari orang-orang yang dipimpinan-nya. Otoritas (authority) adalah hal yang berbeda dengan pengaruh (influence). Otoritas memang dapat melahirkan pengaruh. Tetapi ketaatan yang timbul dari pengaruh semacam itu adalah sementara. Pengaruh semacam itu muncul akibat otoritas yang ada di dalam diri seseorang. Saat tidak lagi memilikinya, maka otomatis dirinya tidak lagi berpengaruh pada orang lain. 
Seorang pemimpin yang diikuti karena otoritas, tidak akan mampu bertahan lama. Pemimpin seperti ini hanya diikuti karena otoritas yang dimilikinya. Itu sebabnya, pada diktator dunia, melakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan dirinya selalu berada di dalam kekuasaan, supaya otoritas tersebut tidak pindah kepada yang lain. Mereka cenderung mempertahankan otoritasnya dengan cara-cara kekerasan, menyebar teror dan intimidasi melalui kekuasaan. Lain halnya jika pemimpin memiliki otoritas akibat pengaruh positif dirinya di lingkungan tempatnya berada. Sekalipun sudah tidak memiliki otoritas dan tidak memiliki jabatan, orang masih dapat mengikutinya dan menjadikannya teladan bahkan mendengar perkataannya. Jika seorang pemimpin memiliki pengaruh yang kuat, orang-orang yang berada di dalam wilayah pengaruhnya, sebetulnya telah memberikan otoritas kepada pemimpin itu dengan sendirinya.
Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa otoritas itu berhubungan dengan kekuasaan yang dimilliki seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hak, wewenang dan legitimasi untuk mengatur, memerintah, memutuskan sesuatu, menegakkan aturan, menghukum atau menjalankan suatu mandat bahkan untuk memaksakan kehendak. Melalui pengertian tersebut, otoritas memiliki kaitan yang sangat erat dengan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.

2. Sumber Otoritas                    
Tingkat otoritas manajerial tertinggi di puncak menurun sampai ke bawah dalam organisasi. Garis otoritas ini dikenal sebagai rantai komando (chain of command). Rantai komando ada jika seseorang menjadi bawahan dan yang lain. Rantai konsep komando, sebagaimana ditunjukkan oleh Buford, Jr. & Bedelan (1988: 67), sangat terkait dangan dua prinsip manajemen populer yang lain yakni pinsip skalar dan prinsip kesatuan komando.
a.       Prinsip skalar menyatakan bahwa garis otoritas yang tegas dan manajer puncak ke masing-masing jabatan bawahan mempengaruhi komunikasi dan pengambilan keputusan.
b.      Prinsip kesatuan komando menyatakan bahwa untuk meminimalisasi konflik dan memaksimalisasi tanggungjawab terhadap hasil seseorang harus melapor kepada atasan tunggal.

3. Tipologi Otoritas
Line functions berupa fungsi-fungsi yang memiliki tanggungiawab langsung untuk melaksanakan tujuan organisasi. Para pegawai dalam rantai komando langsung yang memerintah mereka yang melaksanakan tujuan organisasi disebut sebagai line. Line dalam sistem persekolahan dangan demikian mencakup direktur kurikulum, direktur murid untuk kegiatan lapangan, dan direktur hubungan masyarakat. Pemimpin program dan proyek dapat dipertimbangkan sebagai line tergantung sejauh mana staf spesialis yang melapis kepadanya dan terlibat dalam layanan langsung kepada klien.
Dalam konteks ini, line authority berhak dan bertugas memberi komando tidak terbatas. Otoritas untuk semua aktifitas mengikuti rantai komando. Tidak seperti otoritas line, individu dan departemen yang menyusun staf tidak memberi perintah daripada hanya memberi advis (advice). Pada hakikatnya, tugas staf adalah mengkaji persoalan dan memberi informasi khusus yang membantu line manager bekerja lebih baik. Bagian staf atau individu lantas melaksanakan functional authority, yang terbatas kepada program-program, praktik, kebijakan, atau hal lain yang terspesialisasi.
G.    Politik Organisasi

Teoritisi organisasi tertentu melihat organisasi sebagai arena pertempuran politik (Pfeffer & Salancik, 1978). Departemen, pekerjaan staf manajemen memanfaatkan tugas dan tujuan kepegawaian untuk mencapai agenda sendiri yang nampak atau tidak nampak. Hubungan yang baik dangan pihak luar yang kuat dinilai sangat penting bagi penegakan departemen dan individu. Menurut perspektif politik, sulit untuk menentukan efektifitas organisasi secara keseluruhan. Kepentingannya lebih banyak sejauh kelompok internal berhasil dalam memenuhi tuntutan kelompok kepentingan eksternal tertentu. Dalam dunia sekolah pihak luar tersebut dapat berupa lembaga penyelenggara sekolah, orangtua murid dan masyarakat usaha lokal. Foster (1986:137) menunjukkan bahwa model politik cenderung mencakup pengertian tentang kultur dan loose coupling, walau hal itu langsung memfokus kepada proses sebagai negosiasi kolektif dalam lembaga, pengembangan koalisi dan kelompok kepentingan, dan persaingan tmtuk supremasi dan kontrol organisasi.


H.    Manajemen  Keputusan
Sebagai seorang pemimpin yang aktif berkomunikasi, tentunya sering mengambil kepuusan dari mulai hal-hal sederhana mulai pada yang berdampak terhadap banyak kepentingan, tergantung situsi yang dihadapi. Ada tiga gaya pengambilan keputusan dan tiap gaya mempunyai karakter tersendiri yang ditentukan oleh keadaan dan keterlibatan orang-orang didalamnya, yaitu:
a.    Memutuskan sendiri.
Dalam hal ini pemimpin, mengambil keputusan sendiri dan kemudian mengkomunikasikan keputusannya kepada orang-orang tim kerjanya. Gaya ini efektif saat mempunyai informasi cukup dan pengetahuan yang diperlukan. Keputusan akan diterima baik oleh tim karena waktunya pun terbatas.
b.   Konsultatif
Pendekatan ini dengan cara berkonsultasi dengan anggota tim yang lain dalam mengumpulkan informasi untuk mendapatkan kepastian. Konsultasi ini bias dilakukan dalam suasana pertemuan one on one.
c.    Konsensus
Konsensus atau musyawarah untuk mufakat. Pendekatan ini melibatkan anggota tim yang lain untuk mencapai kesepakatan dalam mengambil keputusan. Semua terlibat aktif untuk menyuarakan pendapatnya. Keputusan yang diambil merupakan hasil mufakat bersama yang diterima oleh semua orang pihak yang memuaskan.[7]

I.       Gaya Kepemimpinan
Seperti halnya dalam pemerintahan, dalam perusahaan, dalam keluarga, dan dalam hubungan antar manusia yang lain, di dalam dunia pendidikan terdapat beberapa gaya kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya dalam memimpin yang mampu mempengaruhi karyawannya.
Adapun gaya-gaya kepemimpinan pendidikan yang pokok ialah :
a.       Gaya kepemimpinan dictator
Pada gaya kepemimpinan diktator (dictatorial leadership style) ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutan serta ancaman hukuman. Tidak ada hubungan dengan bawahan, karena mereka dianggap hanya sebagai pelaksana dan pekerja saja.
b.      Gaya kepemimpinan autokratis
Pada gaya kepemimpinan ini (autocratic ledership style) segala keputusan berada ditangan pimpinan. Pendapat atau kritik dari bawahan tidak pernah dibenarkan.
c.       Gaya kepemimpinan demokratis
Pada gaya kepemimpinan demokratis (democratif ledership style) ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dengan baik.
d.      Gaya kepemimpinan dengan santai
Pada gaya kepemimpinan santai (laissez faire leadership style) ini peranan pimpinan hampir tidak terlihat karena semua keputusan diserahkan kepada bawahan, jadi setiap anggota organisasi dapat melakukan kegiatan masing-masing sesuai dengan kehendak masing-masing pula.[8]

J.      Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan
Meskipun beberapa orang pemimpin mungkin memiliki keahlian dan jabatan dalam pekerjaan yang sama, selalu kita lihat adanya perbedaan-perbedaan dalam sikap dan cara kepemimpinannya hal ini disebabkan faktor-faktor yang menentukan sikap dan tingkah laku pemimpin bermacam-macam, antara lain :
1.      Keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh pemimpin untuk menjalankan kepemimpinanya. Atau dengan kata lain : sesuai tidaknya keahlian atau pengetahuan pemimpin dengan tugas kewajiban yang dipikulnya.
2.      Macam pekerjaan yang harus dikerjakannya. Sikap seseorang yang sedang memimpin anak buah dalam kapal yang sedang tenggelam, tidak sama dengan sikap seorang guru yang sedang memimpin diskusi didalam kelas. Sikap seseorang pemimpin perusahan sudah tentu lain dari pada sikap seorang kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
3.      Sifat-sifat  kepribadian pemimpin. Bagaimana watak dan sifat-sifat pribadi pemimpin turut menentukan bagaimana sikap dan tingkah lakunya dalam menjalankan kepemimpinan.
4.      Sifat-sifat kepribadian pengikut. Seseorang yang memimpin anak-anak kecil, berlainan dengan orang yang memimpin orang dewasa atau orang besar.
5.      Sangsi-sangsi yang ada ditangan pemimpin. Kekuatan-kekuatan yang dimiliki atau  yang berdiri di belakang pemimpin menentukan sikap dan tingkah lakunya. Pemimpin yang berwenang lain reaksi pengikutnya dari pada orang yang tidak berwenang.[9]

K.    Pemimpin yang ideal
Beberapa sifat kepemimpinan yang ideal untuk menjalankan fungsi manajemen mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Fisik  (Physical)
Seorang pemimpin yang ideal mempunyai ciri fisik yang menyenangkan dan terlihat sempurna (Perfect).
b.      Berguna dan mampu mengarahkan (A sance of purposes and direction)
Pemimpin yang ideal mempunyai perasaan untuk selalu berguna bagi orang lain dan mampu mengarahkan kepada setiap orang yang bertemu dengannya untuk mengikuti sarannya.
c.       Antusias (Enthusiasm)
Dalam setiap kesempatan seorang pemimpin yang ideal akan terlihat selalu antusias dan bersemangat, dalam segala situasi dan kondisi, sehingga orang-orang yang berada disekitarnya akan ikut menjadi bersemangat dan antusias.
d.      Bersahabat dan Berpengaruh
Bersahabat dengan semua orang itulah sifat seorang pemimpin ideal, mempunyai pikiran yang selalu positif kepada semua orang, serta memberi pengaruh positif terhadap lingkungannya.



e.       Integritas (Integrit )
Menjaga setiap langkah di dalam hidupnya menjadi seseorang yang berkelakuan baik, jujur, mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
f.       Mempunyai Keahlian (Tehnical Mastering)
Semua ada ilmunya, dengan banyak belajar dan meningkatan keahlian di bidang yang sedang anda tekuni maka anda akan menjadi seorang master dibidang tersebut, orang akan semakin yakin dengan kemampuan anda dalam menyelesaikan setiap tugas.
g.      Kemampuan mengambil Keputusan (Decisiveness)
Pengambilan keputusan secara cepat dan tepat merupakan sebuah kemampuan yang terlihat dari sifat seseorang pemimpin yang ideal, kembangkan kemampuan mengambil keputusan secara tepat dan tepat makan anda akan menjadi seorang pemimpin ideal.
h.      Kecerdasan (Intelegence)
Bekerja cerdas, itulah sifat seorang pemimpin ideal
i.        Kemampuan Membimbing (Teaching Skill)
Tidak hanya memerintah, kemampuan membimbing bawahan untuk mampu dan mau mengerjakan setiap pekerjaan dengan baik, merupakan cirri sifat seorang pemimpin ideal, kesabaran dalam membimbing juga memberikan nilai positif bagi seorang pemimpin ideal.
j.        Damai (Faithful)
Anda merasakan kedamaian apabila berdekatan dengan pemimpin anda, barangkali pemimpin anda adalah seorang pemimpin yang ideal.[10]

Adapun sosok pemimpin yang ideal menurut Islam tentunya sangat erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau merupakan pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi semua orang, tidak hanya umat Islam saja tetapi juga seluruh manusia di bumi ini karena dalam diri beliau tersimpan kebaikan, kebaikan, dan kebaikan. Hal tersebut juga telah dijelaskan Allah dalam al-Quran surah Al-Ahzab : 21. Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat telah memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat secara lahir dan bathin. Beliau tidak hanya memimpin agama saja, tetapi beliau adalah sosok yang patut diteladani dalam memimpin sebuah negara.
Oleh karena itu dalam memilih sosok pemimpin yang ideal harus berkaca pada model kepemimpinan Rasulullah. Sebagai pemimpin yang ideal dan penuh dengan keteladanan, Rasulullah telah dikaruniai 4 (empat) sifat utama yaitu : Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah. Keempat sifat tersebut tentu menjadi dasar atau kriteria seorang pemimpin yang ideal sesuai dengan sifat Rasulullah SAW.
Pertama, Shiddiq artinya jujur. Kejujuran adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang pemimpin. Pemimpin yang jujur maka akan jauh dari sifat dusta dalam kepemimpinannya. Masyarakat akan selalu mempercayai setiap apa yang menjadi kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang memiliki sifat jujur juga akan lebih dicintai oleh rakyatnya karena janji-janji yang diucapkannya pada saat kampaye tidak sekedar “silat lidah” semata. Sebaliknya seorang pemimpin yang dusta dan hanya mengumbar janji demi kekuasaan pasti akan dibenci oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dapat kita nilai dari perkataan dan sikapnya.karena perkataan seorang pemimpin merupakan cerminan dari hatinya.
Kedua, Tabligh artinya menyampaikan atau komunikatif. Seorang pemimpin harus mempunyai sifat terbuka kepada seluruh masyarakatnya. Apa yang telah menjadi kebijakannya harus disampaikan kepada rakyatnya. Selain itu, seorang pemimpin juga mempunyai kewajiban untuk menyampaikan yang benar dan yang salah agar masyarakatnya tidak terjerumus kedalam jurang kenistaan. Sosok pemimpin yang mempunyai sifat tabligh adalah mereka berani menyatakan kebenaran meskipun mempunyai resiko atau konsekuensi yang berat. Seorang pemimpin juga harus selalu menjalin komunikasi yang harmonis dengan rakyatnya agar tidak terjadi kesalahfahaman terhadap apa yang telah menjadi kebijakan seorang pemimpin.
Ketiga, Amanah artinya terpercaya. Amanah juga merupakan sifat wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, maka pemimpin akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan diatas pundaknya. Bangsa kita kini mengalami krisis pemimpin yang amanah. Hal itu terbukti dengan banyaknya pemimpin kita yang berbondong-bondong masuk penjara karena terjerat kasus korupsi. Jabatan yang disandangnya telah disalahgunakan yaitu dengan memanfaatkan jabatan mereka sebagai alat untuk menumpuk kekayaan. Mereka tidak lain adalah seorang perampok yang berdasi dengan cara menghianati kepercayaan rakyatnya. Oleh karena itu pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertanggung jawab yaitu melaksanakan tugas dengan lebih berorientasi kepada ketuntasan dan kesempurnaan.
Keempat, Fathonah artinya cerdas. Seorang pemimpin seyogyanya harus memiliki kecerdasaran di atas rata-rata masyarakatnya. Hal ini dimaksudkan agar pemimpin tersebut memiliki rasa percaya diri untuk memimpin rakyatnya. Kecerdasan merupakan modal utama untuk menjadi seorang pemimpin. Karena hal itu akan membantunya dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Kecerdasan atau ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu ibarat bahan bakar yang digunakan untuk menjalankan roda kepemimpinannya.
Oleh karena itu, mencari sosok pemimpin yang ideal memang bukan pekerjaan yang mudah atau instan, tetapi kita harus bekerja keras untuk selalu melahirkan sosok pemimpin yang ideal tersebut agar negara kita tidak kekurangan stok pemimpin yang sesuai dengan karateristik kepemimpinan Rasulullah SAW. Maka harus dilakukan pembinaan sejak dini tentu dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
BAB III
PENUTUP

Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku seseorang, sehingga apa yang menjadi ajakan dan seruan pemimpin dapat dilaksanakan orang lain guna mencapai tujuan yang menjadi kesepakan antara pemimpin dengan rakyatnya. Sedangkan pemimpin ialah seseorang yang diperlukan untuk mengendalikan dan mengatur kegiatan di dalam suatu organisasi.
Adapun sosok pemimpin yang ideal menurut Islam tentunya sangat erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau merupakan pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi semua orang, tidak hanya umat Islam saja tetapi juga seluruh manusia di bumi ini karena dalam diri beliau tersimpan kebaikan, kebaikan, dan kebaikan.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.


















Daftar Pustaka


Drs. Syafaruddin, M. (2005). Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Herlambang, S. (2013). Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Purwanto, N. (1981). Administrasi Pendidikan. Jakarta: Mutiara Jakarta.





           





[1] Susatyo Herlambang, Pengantar Manajemen, Gosyen Publishing, Yogyakarta, 2013, hlm. 113.
[2] Drs. Syafaruddin, M.Pd, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Ciputat Press, Jakarta, 2005, hlm. 160.
[3] Susatyo Herlambang, Op.Cit, hlm. 128
[4] Susatyo Herlambang, op.cit, hlm. 114.
[5] Drs. M. Ngalim Purwanto, Mutiara, Jakarta, 1981, hlm. 45
[6] Drs. Syafaruddin, M.Pd, op.cit. hlm. 165.
[7] Susatyo Herlambang, op.cit. hlm. 119
[8] Ibid. hlm. 117
[9] Drs. M. Ngalim Purwanto, op.cit. hlm. 35
[10] Susatyo Herlambang, op.cit. hlm. 131