KATA PENGANTAR
Alhamdulilahirabbilálamin,
Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, karena berkat rahmat serta
hidayahNya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah kepemimpinan ini
tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam
senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad saw selalu kita
nantikan syafa’atnya dihari akhir kelak, Amien.
Penulis menyadari makalah
ini jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan sumber referensi
yang penulis dapat selama pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis mohon kritik
dan saran dari para pembaca, dan penulis mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu suksesnya penulisan makalah kepemimpinan ini.
Penulis berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya. Dan jika terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya
Jakarta, 08
Oktober 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Kepemimpinan adalah setiap sumbangan
terhadap terwujudnya dan tercapainya tujuan-tujuan kelompok atau golongan. Atau
dengan kata lain, kepemimpinan adalah perbuatan diantara perseorangan dan
kelompok yang menyebabkan baik seorang maupun kelompok maju kearah
tujuan-tujuan tertentu.
Kepemimpinan tampak dalam
proses di mana seorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi atau menguasai
pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin
dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola
diri, kelompok dan lingkungan dengan baik. Khususnya dalam
penanggulangan masalah yang relatif sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang
pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan
baik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. A. Pengertian
Pemimpin dan Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perubahan prilaku orang lain, baik
langsung maupun tidak. Kemampuan memimpin selalu merupakan pintu terhadap
keefektifan pribadi maupun organisasional.[1]
Kauzes dan Posner
menjelaskan bahwa kepemimpinan itu terdiri dari adanya pemimpin, yang dipimpin
(anggota) dan situasi saling memerlukan satu sama lain. Sedangkan Hersey dan
Blanchard berpendapat bahwa “kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktifitas
individu atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi
tertentu.[2]
Sedangkan pemimpin
ialah seseorang yang diperlukan untuk mengendalikan dan mengatur kegiatan di
dalam suatu organisasi.[3]
Dalam Islam, pemimpin disebut dengan Khalifah. Khalifah adalah wakil, pengganti
atau duta. Sedangkan secara istilah Khalifah adalah orang yang bertugas
menegakkan syariat Allah SWT, memimpin kaum muslimin untuk menyempurnakan penyebaran
syariat Islam dan memperlakukan seluruh kaum muslimin secara wajib, sebagai
pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW .
Dari pengertian
diatas jelas bahwa pemimpin menurut pandangan Islam tidak hanya menjalankan
roda pemerintahan begitu saja namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada
rakyatnya untuk melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam
walaupun bukan beragama Islam. Serta mempengaruhi rakyatnya untuk selalu
mengikuti apa yang menjadi arahan dari seorang pemimpin.
Sedangkan kepemimpinan
adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku seseorang, sehingga apa
yang menjadi ajakan dan seruan pemimpin dapat dilaksanakan orang lain guna
mencapai tujuan yang menjadi kesepakan antara pemimpin dengan rakyatnya.
B. Perbedaan
kepemimpinan dan manajemen
Perbedaan utama
antara keduanya adalah bahwa kepemimpinan itu soal mempengaruhi orang lain
sehingga mau dan mampu menjadi pengikut, sementara manejemn memfokuskan pada
system serta proses. Kepemimpinan merupakan bagian dari proses pengembangan
sumberdaya manusia ( SDM ). SDM adalah asset yang dimiliki sebuah organisasi
yang perlu dikelola secara efektif agar mampu memberikan nilai tambah kepada
organisasi. Untuk mengelola SDM menjadi asset organisasi diperlukan
kepemimpinan yang efektif, apabila kepemimpinan anda ingin efektif anda dapat
melakukukan:
1.
Memotifasi
diri sendiri untuk bekerja.
2.
Banyak
belajar dan membaca buku.
3.
Memiliki
kepekaan tinggi terhadap permasalahan organisasi dan komitmen tinggi untuk
memcahkannya.
4.
Selalu
merasa tertantang untuk mengatasi hambatan dan terhalang untuk mencapainya
tujuan.
5.
Mengerakan
atau memotifasi staf agar mereka mau dan mampu untuk melaksanakan tugas-tugas
pokok organisasi sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab yang melekat pada
setiap tugas tersebut.[4]
C. Fungsi
Kepemimpinan
Kepemimpinan
sebagai salah satu manajemen, merupakan hal sangat penting untuk mencapai suatu
tujuan organisasi. Dalam kehidupaan organisasi, fungsi-fungsi kepemimpinan adalah
bagian daripada tugas utama yang harus dilaksakan, tetapi untuk merumuskan apa
yang dimaksud fungsi kepemimpinan, maka kita harus mengetahui apa yang menjadi
fungsi dari pada pemimpin itu sendiri.
Adapun fungsi pemimpin diantaranya adalah
sebagai berikut:
1.
Membangkitkan
loyalitas dan kepercayaan bawahan
2.
Mengomunikasikan
gagasan atau ide kepada orang lain
3.
Mempengaruhi
serta menggerakkan orang lain untuk dapat mengikuti apa yang menjadi keputusan
baik dari keputusan dari pemimpin maupun keputusan bersama
4.
Menciptakan
perubahan secara efektif
D. Syarat-syarat
Kepemimpinan
Berikut ini adalah
beberapa syarat kepemimpinan dalam pendidikan yang sangat penting dan perlu
mendapat perhatian, yaitu :
a.
Rendah
hati dan sederhana
b.
Bersifat
suka menolong
c.
Sabar
dan memiliki kestabilan emosi
d.
Percaya
pada diri sendiri
e.
Jujur,
adil dan dapat dipercaya
f.
Keahlian
dalam jabatan[5]
E.
Pemimpin di Lembaga Pendidikan
Para pemimpin lembaga pendidikan adalah orang-orang
yang menjalankan kepemimpinan pendidikan. Adapun mereka yang tergolong sebagai
pemimpin pendidikan diantaranya yaitu : rektor, kepala sekolah, kepala
madrasah, kyai atau ustadz sebagai pimpinan pesantren. Mereka yang menduduki
jabatan tersebut memiliki peranan sebagai pemimpin pendidikan yaitu bertanggung
jawab mempengaruhi, mengajak, mengatur, mengkoordinir para personil atau
pegawai kearah pelaksanaan dan perbaikan mutu pendidikan dan pengajaran, sehingga
dapat menjalankan fungsi kepemimpinan pendidikan sebagaimana diharapkan.
Kepala sekolah atau madrasah adalah pimpinan tertinggi
disekolah. Pola kepemimpinannya akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan
sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah
dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan guru,
staf, siswa, orang tua siswa dan pihak terkait untuk bekerja atau berperan guna
mencapai tujuan yang ditetapkan. Cara kepala sekolah untuk membuat orang lain
bekerja untuk mencapai tujuan sekolah merupakan inti kepemimpinan kepala
sekolah.
Banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan kepemimpinan kepala
sekolah diantaranya, yaitu :
1. Kepribadian
yang kuat
2. Memahami
tujuan pendidikan dengan baik
3. Memiliki
pengetahuan yang luas
4. Memiliki
keterampilan professional
Kepala sekolah harus dapat memahami semua situasi yang
ada di sekolah agar dia dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
situasi sekolahnya. Karena itu, menurut para ahli suatu gaya kepemimpinan dapat efektif untuk
situasi tertentu dan kurang efektif bagi situasi yang lain.[6]
Oleh sebab itu, pemimpin diharapkan memiliki kemampuan
dalam menjalankan kepemimpinannya, karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk
memimpin maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan tercapai secara maksimal.
Kemampuan dapat berupa kemampuan berpikir (pengetahuan), dan kemampuan ini yang
merupakan penentu keberhasilan organisasi.
Pengaruh-pengaruh kepemimpinan dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu :
1. Kepemimpinan
tidak langsung (indirect leadership), seperti kepemimpinan seorang ahli ilmu,
seorang pengarang, seorang artis dengan melalui karangan-karangan atau
buku-bukunya.
2. Kepemimpinan
langsung (direct leadership), pengaruh – pengaruh ini dilakukan melalui sikap,
perbuatan dan kata-kata secara langsung terhadap anak buah atau pengikutnya.
Kepemimpinan macam ini disebut juga “ face to face leadership”
F. OTORITAS
1. Pengertian
Otoritas
Otoritas (authority)
dapat dirumuskan sebagai kapasitas atasan, berdasarkan jabatan formal, untuk
membuat keputusan yang mempengaruhi perilaku bawahan. Banyak orang memahami
bahwa otoritas adalah sebuah bentuk kekuasaan seseorang atas diri orang lain.
Pada waktu seseorang memiliki otoritas, misalnya di dalam lingkup pekerjaan
tertentu, maka kekuasaan menjadi mutlak miliknya. Baik itu kekuasaan untuk
mengatur, mengontrol atau memutuskan sesuatu. Tentu saja jika digunakan oleh
orang yang tidak tepat atau memiliki motivasi yang tidak baik, maka otoritas
tersebut tidak berfaedah untuk membangun sebuah sistem malah meruntuhkannya.
Bukan hanya itu, otoritas di tangan orang yang tidak tepat, akan dapat
disalahgunakan untuk menjajah orang lain, mencari keuntungan sendiri dan
menghasilkan perlakuan atau tindakan semena-mena. Betapa baiknya otoritas untuk
tujuan yang baik dan betapa buruknya otoritas untuk tujuan yang menyimpang.
Otoritas haruslah berada di tangan orang yang tepat, yang mampu menggunakannya
secara bertanggung-jawab.
Otoritas yang baik dan benar yaitu, jika
segala sesuatu berjalan dengan baik, di dalam sebuah sistem pemerintahan,
pekerjaan atau bahkan lingkup pelayanan. Otoritas bermanfaat untuk membuat
semua berada di dalam lingkup kerja yang dinamis. Semua orang tunduk dan taat
serta tidak bisa bersikap semau-maunya sendiri. Aturan ditegakkan dan menjadi
acuan bersama. Pemimpin yang mengendalikan situasi, menggunakan otoritas dengan
bertanggung-jawab dan tidak menempatkan diri sebagai alat kekuasaan untuk
mempengaruhi orang lain. Otoritas digunakan untuk membuat semua sistem bekerja
dengan baik dan mencapai tujuan sebagaimana ditetapkan bersama. Dalam konteks
ini juga berlaku seorang pemimpin diikuti karena otoritas yang dimilikinya dan
bahkan karena pengaruh yang dimilikinya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, baik
buruknya otoritas, serta akibat yang ditimbulkannya, tidak ditentukan oleh
otoritas itu, melainkan oleh orang yang mendapatkan atau menggunakan otoritas
tersebut. Dalam konteks kepemimpinan, seseorang yang menggunakan otoritas
sebagai alat kekuasaan, bukanlah pemimpin. Sebab, kepemimpinan adalah pengaruh
dan bukan otoritas. Otoritas dapat menghasilkan pengaruh. Sebaliknya, pengaruh
dapat menghasilkan otoritas. Perbedaanya adalah, jika pengaruh lahir dari
otoritas, maka pengaruh tersebut hanya bersifat sementara selama seseorang
memiliki otoritas di dalam dirinya. Orang-orang akan mengikuti dan berada di
dalam pengaruhnya semata-mata karena otoritas yang dimilikinya. Akan tetapi,
jika otoritas lahir dari pengaruh, maka pengaruh tersebut bersifat jangka
panjang. Orang-orang akan mengikuti seorang pemimpin yang memiliki pengaruh
yang kuat sekalipun tidak lagi memiliki otoritas tertentu. Ketika seorang
pemimpin mampu membangun suatu pengaruh yang kuat di kalangan pengikutnya, maka
dengan sendirinya pemimpin itu mendapatkan otoritas dari orang-orang yang
dipimpinan-nya. Otoritas (authority)
adalah hal yang berbeda dengan pengaruh (influence).
Otoritas memang dapat melahirkan pengaruh. Tetapi ketaatan yang timbul dari
pengaruh semacam itu adalah sementara. Pengaruh semacam itu muncul akibat
otoritas yang ada di dalam diri seseorang. Saat tidak lagi memilikinya, maka
otomatis dirinya tidak lagi berpengaruh pada orang lain.
Seorang pemimpin yang diikuti karena otoritas,
tidak akan mampu bertahan lama. Pemimpin seperti ini hanya diikuti karena
otoritas yang dimilikinya. Itu sebabnya, pada diktator dunia, melakukan
berbagai macam cara untuk mempertahankan dirinya selalu berada di dalam
kekuasaan, supaya otoritas tersebut tidak pindah kepada yang lain. Mereka
cenderung mempertahankan otoritasnya dengan cara-cara kekerasan, menyebar teror
dan intimidasi melalui kekuasaan. Lain halnya jika pemimpin memiliki otoritas
akibat pengaruh positif dirinya di lingkungan tempatnya berada. Sekalipun sudah
tidak memiliki otoritas dan tidak memiliki jabatan, orang masih dapat
mengikutinya dan menjadikannya teladan bahkan mendengar perkataannya. Jika
seorang pemimpin memiliki pengaruh yang kuat, orang-orang yang berada di dalam
wilayah pengaruhnya, sebetulnya telah memberikan otoritas kepada pemimpin itu
dengan sendirinya.
Dari berbagai pengertian di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa otoritas itu berhubungan dengan kekuasaan yang
dimilliki seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hak, wewenang dan
legitimasi untuk mengatur, memerintah, memutuskan sesuatu, menegakkan aturan,
menghukum atau menjalankan suatu mandat bahkan untuk memaksakan kehendak.
Melalui pengertian tersebut, otoritas memiliki kaitan yang sangat erat dengan
kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.
2. Sumber Otoritas
Tingkat otoritas manajerial tertinggi di
puncak menurun sampai ke bawah dalam organisasi. Garis otoritas ini dikenal
sebagai rantai komando (chain of command).
Rantai komando ada jika seseorang menjadi bawahan dan yang lain. Rantai konsep
komando, sebagaimana ditunjukkan oleh Buford, Jr. & Bedelan (1988: 67),
sangat terkait dangan dua prinsip manajemen populer yang lain yakni pinsip
skalar dan prinsip kesatuan komando.
a. Prinsip
skalar menyatakan bahwa garis otoritas yang tegas dan manajer puncak ke
masing-masing jabatan bawahan mempengaruhi komunikasi dan pengambilan
keputusan.
b. Prinsip
kesatuan komando menyatakan bahwa untuk meminimalisasi konflik dan
memaksimalisasi tanggungjawab terhadap hasil seseorang harus melapor kepada
atasan tunggal.
3. Tipologi
Otoritas
Line functions berupa fungsi-fungsi yang
memiliki tanggungiawab langsung untuk melaksanakan tujuan organisasi. Para
pegawai dalam rantai komando langsung yang memerintah mereka yang melaksanakan
tujuan organisasi disebut sebagai line. Line dalam sistem persekolahan dangan
demikian mencakup direktur kurikulum, direktur murid untuk kegiatan lapangan,
dan direktur hubungan masyarakat. Pemimpin program dan proyek dapat
dipertimbangkan sebagai line tergantung sejauh mana staf spesialis yang melapis
kepadanya dan terlibat dalam layanan langsung kepada klien.
Dalam konteks ini, line authority berhak dan
bertugas memberi komando tidak terbatas. Otoritas untuk semua aktifitas
mengikuti rantai komando. Tidak seperti otoritas line, individu dan departemen
yang menyusun staf tidak memberi perintah daripada hanya memberi advis (advice). Pada hakikatnya,
tugas staf adalah mengkaji persoalan dan memberi informasi khusus yang membantu
line manager bekerja lebih baik. Bagian staf atau individu lantas melaksanakan
functional authority, yang terbatas kepada program-program, praktik, kebijakan,
atau hal lain yang terspesialisasi.
G. Politik Organisasi
Teoritisi organisasi tertentu melihat
organisasi sebagai arena pertempuran politik (Pfeffer & Salancik, 1978).
Departemen, pekerjaan staf manajemen memanfaatkan tugas dan tujuan kepegawaian
untuk mencapai agenda sendiri yang nampak atau tidak nampak. Hubungan yang baik
dangan pihak luar yang kuat dinilai sangat penting bagi penegakan departemen
dan individu. Menurut perspektif politik, sulit untuk menentukan efektifitas
organisasi secara keseluruhan. Kepentingannya lebih banyak sejauh kelompok
internal berhasil dalam memenuhi tuntutan kelompok kepentingan eksternal tertentu.
Dalam dunia sekolah pihak luar tersebut dapat berupa lembaga penyelenggara
sekolah, orangtua murid dan masyarakat usaha lokal. Foster (1986:137)
menunjukkan bahwa model politik cenderung mencakup pengertian tentang kultur
dan loose coupling, walau hal itu langsung memfokus kepada proses sebagai
negosiasi kolektif dalam lembaga, pengembangan koalisi dan kelompok
kepentingan, dan persaingan tmtuk supremasi dan kontrol organisasi.
H. Manajemen Keputusan
Sebagai seorang pemimpin yang aktif berkomunikasi,
tentunya sering mengambil kepuusan dari mulai hal-hal sederhana mulai pada yang
berdampak terhadap banyak kepentingan, tergantung situsi yang dihadapi. Ada
tiga gaya pengambilan keputusan dan tiap gaya mempunyai karakter tersendiri
yang ditentukan oleh keadaan dan keterlibatan orang-orang didalamnya, yaitu:
a. Memutuskan
sendiri.
Dalam hal ini pemimpin,
mengambil keputusan sendiri dan kemudian mengkomunikasikan keputusannya kepada
orang-orang tim kerjanya. Gaya ini efektif saat mempunyai informasi cukup dan
pengetahuan yang diperlukan. Keputusan akan diterima baik oleh tim karena
waktunya pun terbatas.
b. Konsultatif
Pendekatan ini dengan cara
berkonsultasi dengan anggota tim yang lain dalam mengumpulkan informasi untuk
mendapatkan kepastian. Konsultasi ini bias dilakukan dalam suasana pertemuan
one on one.
c. Konsensus
Konsensus atau musyawarah
untuk mufakat. Pendekatan ini melibatkan anggota tim yang lain untuk mencapai
kesepakatan dalam mengambil keputusan. Semua terlibat aktif untuk menyuarakan
pendapatnya. Keputusan yang diambil merupakan hasil mufakat bersama yang
diterima oleh semua orang pihak yang memuaskan.[7]
I. Gaya
Kepemimpinan
Seperti halnya
dalam pemerintahan, dalam perusahaan, dalam keluarga, dan dalam hubungan antar
manusia yang lain, di dalam dunia pendidikan terdapat beberapa gaya
kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung
pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang
menyangkut kemampuannya dalam memimpin yang mampu mempengaruhi karyawannya.
Adapun gaya-gaya kepemimpinan pendidikan yang
pokok ialah :
a.
Gaya kepemimpinan dictator
Pada gaya kepemimpinan diktator (dictatorial leadership style) ini upaya mencapai tujuan dilakukan
dengan menimbulkan ketakutan serta ancaman hukuman. Tidak ada hubungan dengan
bawahan, karena mereka dianggap hanya sebagai pelaksana dan pekerja saja.
b.
Gaya kepemimpinan autokratis
Pada gaya kepemimpinan ini (autocratic ledership style) segala keputusan berada ditangan
pimpinan. Pendapat atau kritik dari bawahan tidak pernah dibenarkan.
c.
Gaya kepemimpinan demokratis
Pada gaya kepemimpinan demokratis (democratif ledership style) ditemukan peran serta bawahan dalam
pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan
dibangun dengan baik.
d.
Gaya kepemimpinan dengan santai
Pada gaya kepemimpinan santai (laissez faire leadership style) ini peranan pimpinan hampir tidak
terlihat karena semua keputusan diserahkan kepada bawahan, jadi setiap anggota
organisasi dapat melakukan kegiatan masing-masing sesuai dengan kehendak
masing-masing pula.[8]
J. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepemimpinan
Meskipun beberapa orang pemimpin mungkin
memiliki keahlian dan jabatan dalam pekerjaan yang sama, selalu kita lihat
adanya perbedaan-perbedaan dalam sikap dan cara kepemimpinannya hal ini
disebabkan faktor-faktor yang menentukan sikap dan tingkah laku pemimpin
bermacam-macam, antara lain :
1.
Keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh
pemimpin untuk menjalankan kepemimpinanya. Atau dengan kata lain : sesuai
tidaknya keahlian atau pengetahuan pemimpin dengan tugas kewajiban yang
dipikulnya.
2.
Macam pekerjaan yang harus dikerjakannya.
Sikap seseorang yang sedang memimpin anak buah dalam kapal yang sedang
tenggelam, tidak sama dengan sikap seorang guru yang sedang memimpin diskusi
didalam kelas. Sikap seseorang pemimpin perusahan sudah tentu lain dari pada
sikap seorang kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
3.
Sifat-sifat
kepribadian pemimpin. Bagaimana watak dan sifat-sifat pribadi pemimpin
turut menentukan bagaimana sikap dan tingkah lakunya dalam menjalankan
kepemimpinan.
4.
Sifat-sifat kepribadian pengikut. Seseorang
yang memimpin anak-anak kecil, berlainan dengan orang yang memimpin orang
dewasa atau orang besar.
5.
Sangsi-sangsi yang ada ditangan pemimpin. Kekuatan-kekuatan
yang dimiliki atau yang berdiri di
belakang pemimpin menentukan sikap dan tingkah lakunya. Pemimpin yang berwenang
lain reaksi pengikutnya dari pada orang yang tidak berwenang.[9]
K. Pemimpin yang ideal
Beberapa sifat kepemimpinan yang ideal untuk
menjalankan fungsi manajemen mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Fisik (Physical)
Seorang pemimpin yang ideal
mempunyai ciri fisik yang menyenangkan dan terlihat sempurna (Perfect).
b. Berguna
dan mampu mengarahkan (A sance of
purposes and direction)
Pemimpin yang ideal
mempunyai perasaan untuk selalu berguna bagi orang lain dan mampu mengarahkan
kepada setiap orang yang bertemu dengannya untuk mengikuti sarannya.
c. Antusias
(Enthusiasm)
Dalam setiap kesempatan
seorang pemimpin yang ideal akan terlihat selalu antusias dan bersemangat,
dalam segala situasi dan kondisi, sehingga orang-orang yang berada disekitarnya
akan ikut menjadi bersemangat dan antusias.
d. Bersahabat
dan Berpengaruh
Bersahabat dengan semua
orang itulah sifat seorang pemimpin ideal, mempunyai pikiran yang selalu
positif kepada semua orang, serta memberi pengaruh positif terhadap
lingkungannya.
e. Integritas
(Integrit )
Menjaga setiap langkah di
dalam hidupnya menjadi seseorang yang berkelakuan baik, jujur, mengerjakan
segala sesuatu sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
f. Mempunyai
Keahlian (Tehnical Mastering)
Semua ada ilmunya, dengan
banyak belajar dan meningkatan keahlian di bidang yang sedang anda tekuni maka
anda akan menjadi seorang master dibidang tersebut, orang akan semakin yakin
dengan kemampuan anda dalam menyelesaikan setiap tugas.
g. Kemampuan
mengambil Keputusan (Decisiveness)
Pengambilan keputusan
secara cepat dan tepat merupakan sebuah kemampuan yang terlihat dari sifat
seseorang pemimpin yang ideal, kembangkan kemampuan mengambil keputusan secara
tepat dan tepat makan anda akan menjadi seorang pemimpin ideal.
h. Kecerdasan
(Intelegence)
Bekerja cerdas, itulah
sifat seorang pemimpin ideal
i.
Kemampuan Membimbing (Teaching Skill)
Tidak hanya memerintah,
kemampuan membimbing bawahan untuk mampu dan mau mengerjakan setiap pekerjaan
dengan baik, merupakan cirri sifat seorang pemimpin ideal, kesabaran dalam
membimbing juga memberikan nilai positif bagi seorang pemimpin ideal.
j.
Damai (Faithful)
Anda merasakan kedamaian
apabila berdekatan dengan pemimpin anda, barangkali pemimpin anda adalah
seorang pemimpin yang ideal.[10]
Adapun sosok pemimpin yang ideal menurut
Islam tentunya sangat erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau
merupakan pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri
tauladan bagi semua orang, tidak hanya umat Islam saja tetapi juga seluruh
manusia di bumi ini karena dalam diri beliau tersimpan kebaikan, kebaikan, dan
kebaikan. Hal tersebut juga telah dijelaskan Allah dalam al-Quran surah
Al-Ahzab : 21. Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat telah memberikan contoh
keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat secara
lahir dan bathin. Beliau tidak hanya memimpin agama saja, tetapi beliau adalah
sosok yang patut diteladani dalam memimpin sebuah negara.
Oleh karena itu dalam memilih sosok pemimpin
yang ideal harus berkaca pada model kepemimpinan Rasulullah. Sebagai pemimpin
yang ideal dan penuh dengan keteladanan, Rasulullah telah dikaruniai 4 (empat)
sifat utama yaitu : Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah. Keempat sifat
tersebut tentu menjadi dasar atau kriteria seorang pemimpin yang ideal sesuai
dengan sifat Rasulullah SAW.
Pertama,
Shiddiq artinya jujur. Kejujuran adalah syarat mutlak untuk menjadi seorang
pemimpin. Pemimpin yang jujur maka akan jauh dari sifat dusta dalam
kepemimpinannya. Masyarakat akan selalu mempercayai setiap apa yang menjadi
kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang memiliki sifat jujur
juga akan lebih dicintai oleh rakyatnya karena janji-janji yang diucapkannya
pada saat kampaye tidak sekedar “silat lidah” semata. Sebaliknya seorang
pemimpin yang dusta dan hanya mengumbar janji demi kekuasaan pasti akan dibenci
oleh rakyatnya. Kejujuran seorang pemimpin dapat kita nilai dari perkataan dan
sikapnya.karena perkataan seorang pemimpin merupakan cerminan dari hatinya.
Kedua,
Tabligh artinya menyampaikan atau komunikatif. Seorang pemimpin harus mempunyai
sifat terbuka kepada seluruh masyarakatnya. Apa yang telah menjadi kebijakannya
harus disampaikan kepada rakyatnya. Selain itu, seorang pemimpin juga mempunyai
kewajiban untuk menyampaikan yang benar dan yang salah agar masyarakatnya tidak
terjerumus kedalam jurang kenistaan. Sosok pemimpin yang mempunyai sifat
tabligh adalah mereka berani menyatakan kebenaran meskipun mempunyai resiko
atau konsekuensi yang berat. Seorang pemimpin juga harus selalu menjalin
komunikasi yang harmonis dengan rakyatnya agar tidak terjadi kesalahfahaman
terhadap apa yang telah menjadi kebijakan seorang pemimpin.
Ketiga,
Amanah artinya terpercaya. Amanah juga merupakan sifat wajib yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin. Dengan memiliki sifat amanah, maka pemimpin
akan senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan diatas
pundaknya. Bangsa kita kini mengalami krisis pemimpin yang amanah. Hal itu
terbukti dengan banyaknya pemimpin kita yang berbondong-bondong masuk penjara
karena terjerat kasus korupsi. Jabatan yang disandangnya telah disalahgunakan
yaitu dengan memanfaatkan jabatan mereka sebagai alat untuk menumpuk kekayaan.
Mereka tidak lain adalah seorang perampok yang berdasi dengan cara menghianati
kepercayaan rakyatnya. Oleh karena itu pemimpin yang amanah adalah pemimpin
yang bertanggung jawab yaitu melaksanakan tugas dengan lebih berorientasi
kepada ketuntasan dan kesempurnaan.
Keempat,
Fathonah artinya cerdas. Seorang pemimpin seyogyanya harus memiliki
kecerdasaran di atas rata-rata masyarakatnya. Hal ini dimaksudkan agar pemimpin
tersebut memiliki rasa percaya diri untuk memimpin rakyatnya. Kecerdasan
merupakan modal utama untuk menjadi seorang pemimpin. Karena hal itu akan
membantunya dalam memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya.
Kecerdasan atau ilmu yang dimiliki oleh seorang pemimpin itu ibarat bahan bakar
yang digunakan untuk menjalankan roda kepemimpinannya.
Oleh karena itu, mencari sosok pemimpin yang
ideal memang bukan pekerjaan yang mudah atau instan, tetapi kita harus bekerja
keras untuk selalu melahirkan sosok pemimpin yang ideal tersebut agar negara
kita tidak kekurangan stok pemimpin yang sesuai dengan karateristik
kepemimpinan Rasulullah SAW. Maka harus dilakukan pembinaan sejak dini tentu
dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
BAB
III
PENUTUP
Kepemimpinan adalah
proses mempengaruhi perilaku seseorang, sehingga apa yang menjadi ajakan dan
seruan pemimpin dapat dilaksanakan orang lain guna mencapai tujuan yang menjadi
kesepakan antara pemimpin dengan rakyatnya. Sedangkan pemimpin ialah seseorang
yang diperlukan untuk mengendalikan dan mengatur kegiatan di dalam suatu
organisasi.
Adapun sosok pemimpin yang ideal menurut Islam tentunya
sangat erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW. Beliau merupakan pemimpin
agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah merupakan suri tauladan bagi semua
orang, tidak hanya umat Islam saja tetapi juga seluruh manusia di bumi ini
karena dalam diri beliau tersimpan kebaikan, kebaikan, dan kebaikan.
Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan
dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri
seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.
Daftar Pustaka
Drs. Syafaruddin, M. (2005). Manajemen Lembaga
Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.
Herlambang, S.
(2013). Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Gosyen Publishing.
Purwanto, N. (1981). Administrasi
Pendidikan. Jakarta: Mutiara Jakarta.
[1]
Susatyo Herlambang, Pengantar Manajemen, Gosyen
Publishing, Yogyakarta, 2013, hlm. 113.
[2]
Drs. Syafaruddin, M.Pd, Manajemen Lembaga
Pendidikan Islam, Ciputat Press, Jakarta, 2005, hlm. 160.
[3]
Susatyo Herlambang, Op.Cit, hlm. 128
[4]
Susatyo Herlambang, op.cit, hlm. 114.
[5]
Drs. M. Ngalim Purwanto, Mutiara, Jakarta, 1981, hlm. 45
[6]
Drs. Syafaruddin, M.Pd, op.cit. hlm. 165.
[7]
Susatyo Herlambang, op.cit. hlm. 119
[8]
Ibid. hlm. 117
[9]
Drs. M. Ngalim Purwanto, op.cit. hlm. 35
[10]
Susatyo Herlambang, op.cit. hlm. 131
Tidak ada komentar:
Posting Komentar