MAKALAH
(HISTORIKA
PERKEMBANGAN MANEJEMEN SATUAN PENDIDIKAN)
Makalah ini saya buat salah satu untuk memenuhi persyaratan mata
kuliah manejemen pendidikan
Dosen Pembimbing : Dr. H. Sofwan Manaf M.Si
Oleh :
ROHAYATI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISALAM DARUNNAJAH
JAKARTA
2014
M /1433 H
KATA PENGANTAR
Alhamdulilahirabbilálamin, Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah
Swt, karena berkat rahmat serta hidayahNya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan
makalah manajemen pendidikan ini tepat pada waktunya.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabi Agung
Muhammad saw selalu kita nantikan syafa’atnya dihari akhir kelak, Amien.
Penulis menyadari makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya
pengetahuan dan sumber referensi yang penulis dapat selama pembuatan makalah
ini. Untuk itu penulis mohon kritik dan saran dari para pembaca, dan penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya
penulisan makalah ini.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya
dan bagi pembaca pada umumnya. Dan jika terdapat banyak kesalahan dalam makalah
ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Jakarta, 07 Januari
2015
Penulis
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Manajemen tingkat satuan pendidikan yang pada
masa sekarang ini sudah
sangat maju, sebenarnya mendapatkan kontribusi dari berbagai pemikiran dan hasil praktik para pendahulu.
Menurut robbins (1998), ratusan orang telah
membantu menanam benih manejemen
( termasuk manejemen pendidikan), dan ratusan orang yang
berusaha menumbuh kembangkannya. Masing-masing tokoh pada masa zamannya memberikan kontribusi yang relevan
dengan konteks zaman dan kebutuhanya.
Sudut pandang dan disiplin ilmu yang
mereka dalami, juga mewarnai sumbangan yang mereka berikan kepada manejem
tingkat satuan pendidikan.
Apabila pengelolaan pendidikan diibaratkan sebagai sebuah lukisan
menumental, maka yang menorehkan
lukisan dalam kanvas tersebut adalah para tokoh manajemen tingkat satuan pendidikan sepanjang sejarah. Lukisan menumental tersebut , mendapatkan aneka jenis coretan dan semburan ekspresi para pelukis, dengan aneka macam peralatan
lukis mulai dari
yang sederhana sampai dengan yang
canggih.
Pada bab ini
akan dikedepankan secara berturut-turut
tentang 1. Sejarah
dan aliran manejemen tingkat satuan pendidikan 2. Pendekatan- pendekatan manejemen tingkat satuan pendidikan dan 3. Kecendrungan – kecendrungan manejemen tingkat
satuan pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Historika
dan aliran manjemen
tingkat satuan pendidikan
Sejarah dan aliran manejemen tingkat
satuan pendidikan, dapat dikedepankan berdasarkan
priodisasi atau eranya,
yaitu: 1. Priodisasi atau era rintisan 2. Era klasik 3.
Era human behavior, 4. Era human relation,
dan 5. Era behavioral science. Masimg- masing era tersebut, telah memberikan
kontribusi bagi studi manejemen satuan pendidikan.
1. Era perintisan
Sesungguhnya telah banyak benih-benih manejemen tingkat
satuan pendidikan ditanam oleh orang,
dengan berbagai ragamnya, masing-masing para penanam,
telah
menaburkan benih pengelolaan
tersebut, dan orang-orang yang hidup sezaman dengannya, banyak yang
ikut menuainya. Akan tetapi, untuk masa-masa perintisan ini tiga
nama patut dikedepankan,
yaitu adam smith, seorang bapak pendiri ekonomi kafitalis, lewat karyanya the wealth
of nations, kedua Charles Babbage, seorang guru besar matematika
inggris, lewat karyanya
on the economy of machinery
and manufactures. Ketiga, Robert owens,
seorang wirasuastawan wales yang meberi
pabrik pertamanya tahun 1789, pada masa ia berusia 18 tahun.
a. Adam smith
Sebagai seorang econom, adam smith
sangat berkepentingan dengan efisiensi, yaitu suatu
term yang mencoba mendapatkan selisih antara apa
yang dikeluarkan dan apa yang didapatkan.
Guna
meningkatkan efisiensi, menurut the founding father ilmu
ekonomi ini, orang
seharusnya tidak bekerja
sendiri, melainkan bekerja bersama-sama,
yang diatur lewat pembagian pekerjaan. Ia akhirnya tiba pada suatu kesimpulan,
bahwa pembagian pekerjaan tersebut ternyata meningkatkan produktivitas.
Karena
itu, supaya pembagian
pekerjaan tersebut berhasil dengan baik, ia merekomendasikan
peningkatan keterampilan dan ketangkasan pekerja, menghemat waktu dan
menghemat tenaga kerja. Sebab
hanya dengan efisiensilah
keberlangsungan pekerjaan tersebut dapat dijaga.
Dengan demikian, kontribusi yang secara nyata
ia berikan terhadap studi manejemen
tingkat satuan pendidikan ialah pada
organizing sumber daya manusia (SDM).
b. Chaeles
Babbage
Chaeles
Babbage tampaknya menjabarkan lebih lanjut apa yang pernah dikedepankan oleh
adam smith. Ia mengedepankan keuntungan yang akan didapat, apabila pembagian
pekerjaan yang dikedepankan oleh adam smit itu dapat diterapkan.
Menurut
Charles Babbage keuntungan pembagian pekerjaan tersebut adalah: (1) mengurangi
waktu untuk mempelajari pekerjaan, (2) mengurangi pemborosan bahan selama tahap
belajar, (3) dicapainya keterampilan yang tinggi, (4) dapat dipadukanya
keterampilan dan kemampuan fisik yang mempunyai pekerjaan spesifik tersebut.
Berdasarkan analisikeuntungan tersebut, Charles Babbage merekomendasikan spesialisasi
pekerjaan. Bahwa apapun pekerjaan yang harus deselesaikan, haruslah dilakukan
oleh orang yang punya kapabilitas dibidang pekerjaan tersebut.
c. Robert
owens
Owens
adalah orang yang
lantang mengkritik praktik
pengelolaan yang lebih
memperhatikan praktik perawatan
mesin dibandingkan dengan memperbaiki tenaga
kerja . owens juga
mengecam habis -
habisan industriawan yang
mengupah rendah terhadap
tenaga kerja yang
mengoperasikan mesin-mesin mahal.
Sebagai
seorang edialis , owens berpendapat
bahwa uang seharusnya
lebih banyak dipergunakan
untuk menanam SDM
dibandingkan untuk belanja
mesin-mesin. Karena itu
ia juga memperjuangkan jam kerja
yang diatur bersama
, undang-undang kerja untuk
pekerja anak, pelibatan
masyarakat dalam aktifitas
bisnis dan pemberian
makan kepada tenaga
kerja.
2. Era klasik
Era
klasik ini ditandai
oleh kemunculan teori-teori
pengelolaan untuk pertama
kalinya. Sekitar tahun
1900 sampai dengan
tahun 1930, fungsi – fungsi pengelolaan
mulai mengedepan. Tokoh
- tokoh yang kita
patut catat untuk era
klasik ini adalah
Frederick taylor, henry
fayol, max weber,
mery porket follet,
dan chester Bernard.
3. Era human
behavior
Era human
behavior ditandai oleh banyaknya
sumbangan berharga dari
riset-riset psikologi behavioristik
. berlangsung dalam
dasawarsa tahun 1930-an, era
human behavior ini
ditandai oleh tiga
hal penting yakni
: (1) kelahiran
kantor pekerja sekitar
abad 20-an , (2)
lahirnya akta wegner
, yang mendapatkan
dukungan dari presiden as
franklin Roosevelt, dan
(3) terciptanya bidang
psikologi industry . yang
terakhir ini , yang
terakhir ini ditandai
dengan munculnya karya
yang berasal dari
hugo musterberg pada
tahun 1913.
4. Era human
relation
Era
human relation adalah
suatu era yang memperhatikan terhadap
aspek hubungan kemanusiaan
dalam pengelolaan. Gerakan
pengelolaan era ini,
ditandai oleh kuatnya
keyakinan bahwa kunci
produktifitas organisasi pararel
dengan peningkatan kepuasan
karyawan. Empat tokoh
pengelolaan yang patut
dekedepankan dalam era
human relation ini
adalah hawtorne, dale
Carnegie, abram maslaw,
dan douglash mcgragor.
5. Era behavioral
science
Era behavioral science ditandai banyaknya
riset tentang prilaku
manusia dalam organisasi.
Para priset dalam
bidang ini, mencoba
memisahkan antara keyakinan
pribadi mereka dengan
hasil-hasil riset yang mereka
dapati. Para ilmuan
yang gandrung dengan
riset tersebut mencoba
mengembangkan desain riset
dengan teliti dan
senantiasa terbuka kepada
ilmuan lain yang
ingin membuktikan kebenaran
hasil risetnya. Beberapa ilmuan yang
memberikan kontribusi
pengelolaan era behavioral
science tersebut adalah
Jacob Moreno, B.F skinner, Dafid mc clelland,
fred fiedler, dan
Frederick herzbeg.
B.
PENDEKATAN
– PENDEKATAN MANEJEMEN TINGKAT
SATUAN PENDIDIKAN
1. Pendekatan struktural
Pendekatan (structural
approach ) adalah suatu
pendekatan yang mencurahkan
pada struktur dan
atau aspek kelembagaan , oleh karena itu,
pendekatan ini lazim
juga disebut sebagai
pendekatan institusional atau pendekatan structural institusional.
Sifat
pendekatan structural ini,
selain statistis, juga sangat
legalistic formalistic. Aspek-aspek
sudstantifnya tidak dapat
dijangkau. Lebih-lebih aspek esensinya. Tidak
dapat ditangkap oleh
pendekatan structural. Bahkan
fungsi esensialnya yang terdapat
didalam manejemen tingkat
satuan pendidikan, tidak
dapat ditangkap oleh
pendekatan structural.
2. Pendekatan fungsional
Sebagai
respond atas ketidakpuasan
terhadap pendekatan stuktural,
maka dimunculkan pendekatan
fungsional ( fungsional
approach) pendekatan ini lebih
memberikan perhatian kepada
fungsi-fungsi esensial
manajemen tingkat satuan
pendidikan. Fungsi-fungsi esensial
tersebut, meliputi fungsi
infut, fungsi proses,
fungsi otfut, dan fungsi
impact.
Yang
dimaksud fungsi infut
adalah fungsi yang
berkaitan dengan masukan-masukan dalam
manejemen tingkat satuan
pendidikan, masukan-masukan tersebut
bisa berupa SDM ( siswa,
guru, personalia dan
kependidikan lain) bisa
juga berbentuk dana,
sarana, prasarana, bahkan bisa
juga berupa perangkat
lunak seperti konsep
dan peraturan perundangan.
Yang
dimaksud fungsi outfut
adalah fungsi yang
berkaitan dengan hasil
manejemen tingkat satuan
pendidikan. Fungsi outfut dalam
manajemen tingkat satuan
pendidikan adalah tercapainya
tujuan secara efektif
dan efisien.
Yang
dimaksud dengan fungsi
impact adalah yang
berkaitan dengan dampak
manejemen satuan pendidikan.
Fungsi impact ini bisa
mengarahkan kepada aspek
internal organisasi dan
bisa juga mengarah pada
aspek eksternalnya ataun ekologisnya.
3. Pendekatan stuktulal
bersyarat
Apabila
pendekatan stuktural membatasi
diri pada stuktur
atau kelembagaan yang
bersifat legalistic formalistic.
Maka pendekatan structural
bersyarat lebih menukik
kepada organisasi.
Yang
maksud herarki adalah sususan
organisasi yang didasarkan atas
tingkat-tingkat kewenangan,
kekuasaan, tan tugas
sehingga lalulintas atasan
dan bawahan dapat
berjalan sebagai semestinya.
Yang
dimaksud dengan deferensial
adalah keberagaman masing-masimg
subsistem oganisasi, yang
lazim disebut dengan
biro, bagian, unit
beserta dengan sub-subnya.
4. Pendekatan kuantitatif
Yang
dimaksud dengan pendekatan
kuantitatif adalah suatu
pendekatan yang ketika
mendekati persoalan kerap
menggunakan peranti statistika
dalam analisisnya.
5. Pendekatan kualitatif
Pendekatan kualitatif
muncul sebagai respons
atas ketidakpuasan terhadap
pendekatan kuantitatif. Banyaknya
aspek-aspek manejemen tingkat
satuan pendidikan yang
tidak dapat didekati
dengan menggunakan pendekatan
kuantitatif, ternyata dapat ditembak
dengan pendekatan kualitatif.
6. Pendekatan sistem
Pendekatan sistem
dalam studi manejemen
satuan pendidikan adalah
suatu pendekatan yang
berusaha untuk menberikan manajemen tingkat
satuan pendidikan dari sistem utama dan sistem pendudkungnya.
C.
MANEJEMEN
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH
Tingkat
satuan pendidikan berbasis
sekolah, juga dikenal
menejemen berbasis sekolah
( MBS ) sebenarnya merupakan
bentuk lain dari
manejemen tingkat satuan
pendidikan yang
terdesentralisasi. Dalam MBS, otonomi
pendidikan ( sekolah ) banyak
dikedepankan dengan demikian
ada tiga triple
otonomi yaitu otonomi pendidikan,
otonomi sekolah, dan
otonomi guru.
Manajemen kurikulum Manajemen kurikulum merupakan subtansi manajemen yang utama
di sekolah. Prinsip dasar manajemen
kurikulum ini adalah berusaha agar proses pembelajaran dapat berjalan
dengan baik, dengan tolok ukur
pencapaian tujuan oleh
siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus
menerus menyempurnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen kurikulum di sekolah dilakukan melalui empat tahap
• Perencanaan;
•
Pengorganisasian dan koordinasi;
• Pelaksanaan; dan
•
Pengendalian.
Dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang siklus manajemen
kurikulum yang terdiri
dari empat tahap : 1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai : (1) analisis k ebutuhan; (2) merumuskan dan menjawab
pertanyaan filosofis; (3) menentukan disain kurikulum;
dan (4) membuat rencana induk (master
plan): pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian. 2. Tahap pengembangan; meliputi langkah-langkah : (1) perumusan
rasional atau dasar
emikiran; (2) perumusan visi, misi, dan
tujuan; (3) penentuan
struktur dan isi
program; (4) pemilihan
dan pengorganisasian materi; (5) pengorganisasian
kegiatan embelajaran; (6) pemilihan
sumber, alat , dan sarana belajar;
dan (7) penentuan cara mengukur
hasil belajar. 3. Tahap implementasi atau pelaksanaan;
meliputi langkah-langkah: (1) penyusunan rencana dan program
pembelajaran (Silabus, RPP: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) penjabaran materi (kedalaman dan keluasan); (3) penentuan
strategi dan metode
p embelajaran; (4) penyediaan sumber, alat, dan
s arana pembelajaran; (5) penentuan cara dan alat
penilaian proses dan hasil belajar.
BAB III.
KESIMPULAN
A.
PENUTUP
Manejemen tingkat
satuan pendidikan pada
era sekarang ini
sudah demikian maju ,
sebenarnya mendapatkan
kontribusi dari berbagai
pemikiran dan hasil
peraktik para pendahulu,
menurut robbins (1998)
ratusan orang telah
menbantu menanam benih
manejemen temasuk manajemen
pendidikan , dan ratusan orang
yang berusaha memeliharanya, dan
ratusan orang lagi berusaha
menumbuhkembangkanya,
masing-masing tokoh pada
zamannya member kontribusi
yang relevan dengan
konteks zaman dan
kebutuhannya. Sudut pandang
dan disiplin ilmu
yang mereka dalami
juga mewarnai sumbangan
yang mereka berikan
kepada manejemen tingkat
satyan pendidikan.
Setidaknya ada
6 pendekatan dalam
manajemen tingkat satuan
pendidikan , yaitu pendekatan structural, pendekatan
fungsional, pendekatan structural bersyarat, pendekatan
kuantitatif, pendekatan kualitatif dan pendekatan
sistem.
Pendekatan structural
lebih mengedepankan aspek-aspek yang bersifat
legalistic formalistic, pendekatan
fungsional lebih memberikan perhatian
kepada fungsi-fungsi esensial
manajemen satuan pendidikan,
pendekatan structural bersyarat
lebih menukik kedalam
structural organisasi,
khususnya ada tiga
dimensi yaitu herarki,
deferensiasi, dan kualifikasi
atau kompetensi.
DAFTAR PUSTAKA
-
Ali imron, proses manajemen tingkat satuan
pendidikan.
-
Musa
hubies, manajemen strategic , kompas
gramedia
-
Bacal, Robert. 2001. Performance Management. Terj.Surya Darma dan Yanuar